Home BERITA Bung Tomo Itu Santri Jadi Tema HPN 2018 di Ponpes Sirajul Huda

Bung Tomo Itu Santri Jadi Tema HPN 2018 di Ponpes Sirajul Huda

8
0

Janapria, nulomboktengah.or.id | Santri dan santriwati SMK Islam Sirajul Huda Paok Dandak mengadakan upacara memperingati Hari Pahlawan 10 November 2018 di lapangan sekolah mereka mulai jam 07.00 wita pada Sabtu, (10/11) kemarin.

Peringatan Hari Pahlawan yang diberi tema “Bung Tomo Itu Santri” diikuti oleh siswa-siswi SMK Islam Sirajul Huda dari 3 jurusan yakni Agribisnis, Multimedia dan Pariwisata. Hadir pula pengurus yayasan, dewan guru serta staf sekolah.

Ketua Yayasan Ponpes Sirajul Huda Ahmad Jumaili menceritakan dalam amanahnya, hari Pahlawan diperingati sebagai bentuk syukur rakyat Indonesia atas kemerdekaan yang telah diraih bangsa ini.

Dikatakannya, 10 November terlebih adalah momentum yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia karena pada hari itulah dimulainya peperangan besar Surabaya yang dimotori oleh seorang santri bernama Bung Tomo, mengusir tentara sekutu yang mendarat di Surabaya dan Jakarta.

Diketahui dalam sejarah, empat bulan paska Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia, tentara sekutu kembali ingin menjajah Indonesia.

Persenjataan tentara sekutu yang sangat lengkap membuat Bung Karno ketar-ketir. Bung Karno khawatir, apabila terjadi perang maka rakyat pasti akan kalah karena senjata yang dipunyai hanya sisa peninggalan dan rampasan dari tentara Jepang.

Karena itu, atas saran Jenderal Besar Soedirman, Soekarno meminta fatwa kepada Roisul Akbar Umum Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari tentang hukumnya Jihad Fi Sabilillah melawan sekutu sementara Indonesia bukan negara Islam.

Kiai Hasyim kemudian mengumpulkan ulama se Jawa dan Madura untuk membahas hal ini. Kiai hasyim secara khusus meminta istikharah para ulama dan hasilnya adalah terbitnya sebuah dokumen penting yang dikenal dengan nama Resolusi Jihad NU pada tanggal 22 Oktober 1945

Dalam Resolusi Jihad tersebut, para ulama memberikan fatwa maha penting, salah satunya tentang wajibnya seluruh rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari gangguan sekutu. Karena wajib, siapapun yang terbunuh di medan oleh para kiai dinyatakan Syahid Jihad Fi Sabilillah.

Terbitnya Resolusi Jihad NU ini memompa semangat santri ke medan perang. Perang 3 hari akhirnya meledak di Surabaya antara para santri dan tentara sekutu yang didalamnya termasuk Inggris.

Di hari ke 3 sekutu mendatangkan Soekarno untuk genjatan senjata. Namun sehari setelah genjatan senjata salah seorang Jenderal Sekutu bernama Malabi berhasil dibunuh dan genjatan senjatapun berakhir.

Karena marah, tentara sekutu mengancam akan membumihanguskan surabaya, hingga bung tomo meminta ijin ke Kiai Hasyim untuk mengobarkan semangat Jihad kembali dengan mewartakan Resolusi Jihad NU ke seluruh penjuru negeri dan memompa semangat perlawanan santi dan seluruh rakyat hingga tentara sekutu merugi banyak tentaranya terbunuh.

Jihad di Era Milenial

Ahmad Jumaili menambahkan, di era milenial sekarang ini kita bisa berjihad dengan mengisi kemerdekaan sebaik-baiknya. Salah satunya adalah dengan menuntut ilmu.

“Kalian tiap hari ke sekolah adalah Jihad Fisabilillah, kalo kalian mati saat sedang menuntut ilmu seperti ini, kalian mati syahid sama seperti Bung Tomo” Ungkapnya.

Lelaki yang selama tiga tahun terakhir aktif menggerakkan generasi muda pertanian melalui Jurusan Agribisnis yang ia bikin ini mengajak seluruh siswa untuk sungguh-sungguh mengembangkan segala potensi dirinya, mengikuti semua program sekolah dan memaksimalkan pemanfaatan semua fasilitas sekolah.

“Yang kreatif, jangan malas mikir, karena dengan cara itu anda membuktikan kesungguhan dalam menuntut ilmu, Jihad itu artinya adalah Sungguh-sungguh” katanya mengakhiri ceramahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here